Sabtu, 09 September 2017

Mengenal Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu





Provinsi Bengkulu dan Bung Karno tidak dapat dipisahkan. Ya, Provinsi Bengkulu adalah tempat pengasingan kedua Soekarno setelah mengalami pengasingan pertama di kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Soekarno dan keluarganya menjalani pengasingan di Ende selama 4 tahun (1934-1938).
Lepas dari Ende, Bung Karno dipindahkan ke Bengkulu. Bung Karno menjalani pengasingan di Bumi Rafflesia selama 4 tahun (1938-1942). Ibu Inggit Garnasih dan anak angkat mereka, Ratna Djuami, dan Kartika selalu setia menemani Bung karno kemana pun ia diasingkan.
Keberadaan Soekarno di Bengkulu pada tahun 1938-1942 menyisahkan tanda tersendiri, yaitu sebuah rumah yang terletak di jalan Soekarno-Hatta, Anggut Atas, kota Bengkulu. Rumah ini dinamai Rumah Kediamanan Bung Karno. Rumah Bung Karno berdiri di tanah seluas hampir satu hektar. Rumah ini merupakan landmark yang wajib dikunjungi saat berkunjung ke Bengkulu. Rumah Bung Karno merupakan warisan budaya yang dilindungi oleh negara melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi. BPCB Jambi memiliki wilayah kerja yaitu provinsi Jambi,Sumatra Selatan, Bengkulu, dan Kepulauan Bangka Belitung.

Rumah Bung Karno
Sumber Foto: Blogger Bengkulu
     Selama menjalani pengasingan di Bengkulu, Bung Karno menempati sebuah rumah berukuran 9x18 meter yang terdiri dari dua kamar tidur. Satu kamar tidur untuk Bung Karno dan Ibu Inggit. Satu lagi kamar tidur untuk Ratna Djuami dan Kartika. Selain itu, di dalam rumah terdapat satu ruang tamu, satu ruang penyimpanan baju-baju sandiwara Monte Carlo dan satu ruang baca yang dipenuhi buku-buku favorit Bung Karno. Rumah ini dilengkapi teras bagian depan dan teras bagian belakang. Sementara itu, kamar tidur pembantu, kamar mandi, dan dapur diletakan berderet di luar rumah. 
      Di antara rumah dan deretan kamar pembantu terdapat sumur sedalam 12 meter dengan air yang begitu jernih. Jika berkunjung ke rumah Bung Karno sayang rasanya jika tidak menyempatkan diri untuk membasuh muka dengan air sumur ini. Konon, pengunjung yang masih single akan mendapat jodoh setelah membasuh wajah di sini. Selain itu, air sumur ini dapat membuat awet muda. 

Ranjang di Kamar Bung Karno dan Ibu Inggit Garnasih
Ranjang di Kamar Ratna Djuami dan Kartika

Sumur di Belakang Rumah
Talent: Azizah
Kamar Pembantu, Kamar Mandi, dapur, dan Gudang


Di dalam rumah pengasingan Soekarno benda-benda milik Bung karno masih terawat dengan rapi. Beberapa benda peninggalan Bung Karno:
1.    Sepeda Ontel
   Sepeda ontel adalah sarana transportasi yang biasa Bung karno gunakan dalam kesehariannya. Bung karno gemar berkeliling kota Bengkulu menggunakan sepeda ontel kesayangannya. 

Sepeda Ontel Bung Karno
2. Koleksi Kostum Sandiwara Monte Carlo
Kecintaan Bung Karno terhadap seni teater tidak pernah padam. Selama menjalani pengasingan di Bengkulu, Bung Karno tetap menekuni hobinya bermain drama bersama kelompok sandiwara Monte Carlo. Monte Carlo didirikan oleh Bung Karno dan Inggit Garnasih beserta sahabat-sahat mereka. Sandiwara Monte Carlo ini didirikan untuk merangkul pemuda-pemudi Bengkulu berkesenian. Pada masa itu, Monte Carlo memainkan berbagai macam drama. Namun, drama Dr. Sjaitan dan Rainbow (Poetri Kentjana Boelan) yang paling banyak digemari oleh masyarakat Bengkulu. Drama Dr.Sjaitan terinspirasi dari film Freinkeinstein sedangkan drama Rainbow bercerita tentang seorang anak yatim piatu yang berasal dari keluarga miskin yang diangkat oleh bangsawan.


Koleksi Kostum Monte Carlo

 3. Koleksi Buku
Bung Karno begitu suka membaca. Ia menyenangi buku-buku berbahasa Belanda. Saat ini buku-buku koleksi Bung Karno masih tersimpan rapi walaupun sebagian buku kondisinya sudah kurang baik. Koleksi buku-buku di rumah Soekarno berjumlah 333 buku.
Bagi Bung Karno, kegiatan membaca akan membuat jiwanya yang terpenjara menjadi bebas. Bahkan, saat Bung Karno menjalani hukuman di penjara Banceuy dan Sukamiskin, Inggit Garnasih selalu menyelipkan surat kabar di balik kainnya untuk diberikan kepada Soekarno. Melalui surat kabar yang dibawa istrinya tersebut, Bung Karno dapat memantau pergerakan teman-teman seperjuangannya dalam upaya kemerdekaan RI. 
Buku-buku Bung Karno
4. Surat Soekarno untuk Fatmawati
        Di dalam rumah Soekarno terpajang surat cinta Bung Karno untuk Fatmawati. Surat yang ditulis tangan oleh Bung Karno ini merupakan saksi bagaimana sang merpati dari Bengkulu tersebut pada akhirnya mampu menakhlukan hati sang singa podium.

Surat Cinta Bung Karno untuk Fatmawati
Rumah Soekarno selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun asing. Cukup membayar tiket sebesar Rp3000,00 (dewasa) dan Rp2000,00 (anak-anak) kita sudah dapat mengakses jejak-jejak Bung Karno di Bengkulu. Rumah Soekarno ini sangat cocok dijadikan wisata edukasi.

Komunitas Blogger Bengkulu melalui Media Center Provinsi Bengkulu merasa beruntung karena mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam acara Jejak Warisan Budaya Bengkulu dalam Gerak, Tutur, Nada, dan Coretan yang dilaksanakan pada tanggal 5-7 September 2017. Acara pembukaan diadakan di rumah pengasingan Bung Karno dan berlansung dengan sangat meriah. 


Catatan: Sumber referensi dari tulisan ini adalah Novel Kuantar Kau ke Gerbang karya Ramadhan KH dan Pak Jamal (Pengelola Cagar Budaya; Rumah Soekarno). 

Kamis, 31 Agustus 2017

Kelas Blogger 1 Komunitas Blogger Bengkulu: Kece!

anak bobe kece
sumber foto : facebook Ahmad Kumaedy
       Pada tanggal 20 Agustus 2017 komunitas Blogger Bengkulu mengadakan kelas menulis 1 dengan tema “All About Job Review”. Dalam tema tersebut ada kata job. Kata job jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya adalah pekerjaan. Kata dasar pekerjaan adalah kerja. Menurut KBBI kerja adalah kegiatan melakukan sesuatu. Artinya, dalam materi kelas blogger hari ini ada sesuatu yang akan kita kerjakan/lakukan.  Iya apa iya? Tidak usah dijawab. Ini hanya analisis saya yang penuh ketidakjelasan.. hehehe
     Kelas blogger kali ini bertempat di Central Elektro. Central Elektro adalah AC center yang beralamat di KM 6,5. Kelas blogger kali ini diisi oleh pembicara kece sekaligus Mak, eh maksudnya ketua Blogger Bengkulu, Mbak Milda Ini. Beliau ini rekeningnya gendut akibat job review (menurut penaksiran saya.. hehe). Jadilah beliau sharing tentang bagaimana caranya supaya blog yang kita kelola menghasilkan uang, biar gendut juga kayak dia. Rekeningnya maksud saya, bukan orangnya.

ketua bobe kece, Mbak Milda
sumber foto : facebook Milda Ini
        Mbak Milda kali ini meyampaikan materi tentang all about job review. Ya, initinya bagaimana menghasilkan uang lewat blog. Asyik, sebuah alternatif pekerjaan yang menyenangkan. Bagaimana tidak, hobi menulis tersalurkan dan penghasilan juga bertambah. Ya, sambil menyelam minum kopi. Nah, berhubung saya baru datang untuk pertama kalinya ke kelas blogger, saya nyimak saja sambil ngangguk-ngangguk. Yap... agak-agak gak  ngerti. Tapi intinya duit. Itu yang berhasil saya tangkap.  
Anak-anak bobe (sapaan kece anggota komunitas Blogger Bengkulu) begitu antusias mengikuti kelas blogger hari ini. Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam ini ramai didatangi blogger yang begitu semnagat belajar menghasilkan uang lewat blog. Berbagai pertanyaan mereka ajukan. Misalnya, “Gimana Mbak caranya supaya dapat job?”. “Melamarkah atau dilamarkah?” “Gimana caranya melamar job?” “Gimana Mbak, enak gak dilamar?” Yah.... masalah lamar-lamaran saya juga belum paham. Kembali nganguk-nganguk. Pokoknya ngangguk saja dulu....

ayo... hasilkan gambar terbaik
sumber foto : facebook Milda Ini
       Sedang khidmat mendengarkan materi, tiba-tiba saya heran melihat anak-anak bobe melakukan gerak cepat. Oh.. ternyata mereka bersaing ketat untuk mengambil gambar terbaik, lalu gambar-gambar yang mereka hasilkan diupload ke sosial media untuk mengikuti lomba foto live event. Hadiahnya duit. Nah kan, duit lagi. Keren! Seru! Boleh juga nih!
Selain lomba foto live event, ternyata ada juga lomba blog review. Untuk lomba yang satu ini anak-anak bobe dikasih rentang waktu sampe tanggal 30 Agustus 2017.  Hadiahnya tidak kalah kece. Untuk juara 1 ada  kipas angin, untuk juara 2 ada kompor gas, dan untuk juara 3 ada belender. Hadiahnya seputar alat rumah tangga. Bermanfaat ya, dapat langsung digunakan saat pulang ke rumah atau tempat kos.
Hadiah-hadiah kece ini dipesembahkan oleh Central Elektro, Ac center yang trusted  di kota Bengkulu. Nah,  yang kece lagi ada juga fee transport bagi anak-anak bobe tapi dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Owner CE, Pak Undang Sumbaga
sumber foto: facebook Milda Ini
Selain Mbak Milda, kelas blogger kali ini juga diisi oleh owner Central Elektro. Presentasi ini sangat penting untuk disimak karena materi yang disampaikan Pak Undang Sumbaga merupakan modal utama untuk mengikuti lomba blog review. Lomba blog kali ini adalah me-review Central Elektro. Anak-anak bobe begitu semangat mencatat, merekam, memfoto setiap materi yang disampaikan pembicara. Bahkan, jika belum jelas mereka tak segan-segan untuk bertanya. Wah.. minat belajar anak bobe begitu luar biasa. Semoga ketularan nih....
Akhirnya waktu juga yamg memisahkan kita. Kelas blogger 1 ini berakhir dengan sesi foto-foto. Sebuah sesi yang penting untuk tidak dilewatkan agar bisa tampil kece di sosial media. 

Minggu, 20 Agustus 2017

Serunya Mandi di Muara Kedurang

Sungai Muara kedurang

Kata seorang wonder women, perjalanan itu harus dinikmati. Kata kunci ketika melukan sebuh perjalanan adalah enjoy, happy, dan yang terpenting adalah safety.
    Tepat tanggal 6 Agustus 2017 lalu kami merencanakan perjalanan ke arah selatan. Tujuan kami adalah mencari sungai. Ya, aku pikir ini adalah ide yang bagus. Toh... sudah lama juga aku tidak mandi sungai. Ya, terakhir kali aku merasakan dingainnya air sungai saat moment KKN, kurang lebih 3 tahun yang lalu. Sudah rindu juga rasanya masa-masa manis itu.
Kebetulan salah satu teman perjalanku sudah beberapa kali mandi sungai di sepanjang daerah selatan. Ya, agar tidak mandi di sungai yang sama, sebanyak dua kali, kami pun mencari sungai yang belum pernah didatangi oleh temanku. Akhirnya, pilihan kami jatuh pada sungai Muara Kedurang.
Sungai Muara Kedurang memang begitu menarik. Sungai ini terletak tepat  di bawah jembatan. Jembatan besar ini dijadikan pembatas antara kecamatan Manna dan kecamtan Kedurang. Jembatan ini terhimpit di antara desa Tanjung Aur dan Lubuk Ladung. Jadi, tidak heran rasanya anak-anak dari kedua desa tersebut mandi bersama. Bisa jadi, letak desa mereka yang berdekatan membuat mereka berteman akrab. 


Mandi Bersama Bocah-Bocah Pemburu Pusaran Air
Dari kejauhan kami sudah berteriak kagum. Wahh.... mata kami sudah dimanjakan oleh jernihnya air muara. Deburan ombak di sampingnya semakin menggelitik hati kami untuk segera turun dari mobil dan menjejakan kaki di antara bebatuan yang cantik. 
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) muara adalah tempat berakhirnya aliran sungai di laut atau dengan kata lain muara adalah sungai yang dekat dengan laut. Nah, terbayang sudah betapa indahnya air tawar dan air asin duduk berdampingan J
Pantai Muara Kedurang atau ada juga yang menyebutnya Sungai Muara Kedurang. Ya, kedua sebutan ini benar. Di sini, Sungai dan pantai ini saling berdekatan. Ya, hanya dibatasi oleh bebatuan yang berbaris tepat di pinggir   pantai. Saat berdiri di sungai kita dapat melihat gulungan ombak dan mendengar deburan ombak. Sebaliknya, saat berdiri di laut kita dapat melihat sungai yang begitu jernih. Fenomena alam inilah yang membuat Muara Kedurang berbeda dengan sungai atau pantai lainnya. Saat datang ke sini pengunjung dapat menikmati dua fenomen alam secara bersamaan.

Akses untuk tiba di Muara Kedurang tergolong mudah. Dibutuhkan sekitar 4-5 jam perjalanan untuk tiba di sana menggunakan mobil. Jika kita menggunakan travel ongkonsya sekitar 60-70 ribu rupiah. Kendaraan dapat masuk sampai ke pinggir sungai dan pantai melalui jalan setapak yang berada atas jembatan. Jalan setapak ini kondisinya tidak terlalu bagus. Maka, pengunjung sebaiknya berhati-hati.
Waktu terbaik untuk mandi di sini adalah siang hingga sore hari. Menjelang sore biasanya di sini anak-anak sudah ada anak-anak desa setempat yang mandi. Mereka begitu manis dan ramah. Mereka tak segan-segan menjadi guide dadakan. Mereka akan memberitahu kita letak bagian-bagian sungai yang dalam sehingga kita merasa aman saat mandi. Selain itu, mereka juga dapat menjadi pelatih renang dadakan. Anak-anak manis yang begitu baik. Ya, mereka kembali membuka lembaran memori masa kecilku.
Di tengan-tengah sungai terdapat bagunan besar yang berbentuk tabung berdiameter 1-2 meter. Konon, pada zaman penjajahan bangunan besar ini rencananya akan dibuat jembatan. Namun tampaknya tidak terealisasi dan hanya meninggalkan beberapa bangunan yang kokoh. Jika kita tidak pandai berenang sebaiknya tidak mandi di area bangunan ini. Terdapat beberapa lubuk sedalam hampir dua meter (menurut perkiraanku). Bagi anak-anak setempat lubuk inilah yang menjadi spot sangat menarik. Mereka akan meloncat dari bangunan lalu berenang ke tepian. Di sini juga banyak terdapat pusaran air. Anak-anak ini berlomba-lomba untuk memecahkan setiap pusaran air yang lewat. Maka, dalam tulisan lain aku menyebut anak-anak manis ini sebagai bocah-bocah pemburu pusaran air.  Pusaran air adalah air yang berputar. Anak-anak akan langsung meloncat ketika pusaran air datang. Suatu kebanggan tersendiri bagi mereka ketika berhasil memecahkan pusaran air tersebut.
Sungai Muara Kedurang berbeda dengan sungai-sungai pada umumnya. Arusnya tergolong tenang dengan bebatuan kecil di dalamnya. Batu-batu ini tegolong aman untuk dipijak dengan kaki telanjang, hanya saja sedikit licin. Kita harus berhati-hati agar tidak tergelincir. Nah, jika anda berperjalanan ke arah selatan tak ada salahnya merasakan segar air Muara Kedurang.

Minggu, 30 Juli 2017

Oleh-Oleh dari Rafflesia Matsuri 2017

     Banner Rafflesia Matsuri 2017
            Disaring wikipedia.org Matsuri artinya adalah perayaan atau festival  di Jepang. Matsuri diadakan   sepanjang tahun di berbagai tempat di Jepang. Khsususnya di daerah Kyushu, Matsuri yang diadakan di musim gugur disebut kunchi. Sebagian besar penyelenggara Matsuri adalah Kuil Budha atau Kuil Shinto karena pada awalnya Matsuri identik dengan ritual keagamaan.

          Terlepas dari sejarah Matsuri itu sendiri, tepatnya hari ini, Minggu 30 Juli 2017 terdapat sebuah acara megah yang bertajuk Rafflesia Matsuri 2017. Acara yang diadakan di lantai dasar Bengcoolen Mall ini ramai dikunjungi anak muda yang mayoritas penggila anime dan pengagum kebudayaan Jepang.

Panggung  Rafflesia Matsuri 2017

         Acara yang berlangsung dari pagi hingga malam ini menyajikan berbagai kegiatan menarik. Diantaranya adalah lomba menggambar, lomba menyanyikan lagu Jepang, lomba makan ramen, pengenalan kebudayaan Jepang oleh sensei Kazuki Yamauci. Selain itu, aneka makanan khas Jepang seperti takoyaki tak  ketinggalan dijajakan dalam festival ini. Aneka makanan khas Jepang ini ludes dalam waktu 1,5 jam saja.



 Salah satu pengunjung yang berfoto dengan sensei Kazuki Yamauci
        Di lain pihak, hadirnya cosplayer semakin menghidupkan acara ini. Para cosplayer menampilkan kostum dan aksi terbaik mereka. Cosplayer yang berkeliling area festival membuat pengunjung serasa berada di dalam film anime. Di samping itu, cosplayer-cosplayer ini ramah sehingga membuat pengunjung terpikat lalu mengajak mereka berfoto.

Salah satu pengunjung yang berfoto bersama cosplayer
          Dan yang paling menarik perhatian adalah aneka pernak-pernik anime khas Jepang.  Alhasil, pembeli harus rela antri dan bersaing dengan pembeli lainnya untuk mendapatkan pernak-pernik yang mereka incar. Yap, aneka pernak-pernik ini ramai diserbu pembeli.

Aneka pernak-pernik JKT48 dan AKB48

Pameran Action Figure (Dijual juga)
Aneka poster anime

Aneka stiker anime
 Aneka pin dan gantungan kunci anime
         Pada akhirnya, terpancar raut bahagia dari wajah setiap pengunjung di area festival.  Ya, tak dapat dipungkiri bahwa hadirnya acara ini memberikan ruang bagi pengagum budaya Jepang di Bengkulu untuk mendekatkan diri dan saling berbagi. Selain itu, kehadiran Rafflesia Matsuri ini secara umum membuat masyarakat semakin mengenal kebudayaan Jepang. Semoga Rafflesia Matsuri diadakan setiap tahunnya ya..... J

Jumat, 28 Juli 2017

Air Terjun Curug 9: Destinasi Wisata yang Tersembunyi (Explore Bengkulu)

  Air Terjun Curug 9 dari kejauhan
        SEBENTAR LAGI DARATAN!!! Itu adalah frase penghibur ketika energi kami sudah hampir habis. Ya, tebing panjang dengan kemiringan 60-90 derajat cukup membuat kami ingin menyerah. Putar arah, lalu pulang.
       Ya, itulah sedikit kisah perjuangan luar biasa kami untuk menjumpai si cantik air terjun curug 9. Air terjun curug 9 adalah air terjun bertingkat yang terletak di desa Tanah Hitam, kecamatan Padang Jaya, kabupaten Bengkulu Utara. Air terjun ini tersembunyi di antara rimbunan hutan yang merupakan kawasan konservasi TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat). Jadi, tidak heran jika di sepanjang jalur mata kita akan dimanjakan oleh pohon-pohon besar yang menjulang ke langit. Jika beruntung, kita dapat menemukan jejak-jejak harimau sumatra. Dan, rombongan kami berhasil menemukan sisah-sisah makanan hewan endemik sumatra tersebut. 
Teman-teman asyik berfoto dengan latar air terjun
         Akses untuk menuju air terjun curug 9 dari kota Bengkulu tergolong mudah. Kita dapat menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua. Dibutuhkan waktu kurang lebih 3 jam untuk tiba di desa Tanah Hitam dari kota Bengkulu dengan menggunakan mobil dan kurang lebih 2,5 jam menggunakan sepeda motor. Desa Tanah hitam adalah desa yang menjadi pintu gerbang untuk menuju Curug 9. Mayoritas penduduk di desa ini menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Hal ini terlihat dari hamparan perkebunan kelapa sawit, karet, dan kopi di sepanjang perjalanan.
        Sebelum memasuki desa Tanah Hitam, kita terlebih dahulu akan tiba di Simpang 4 Unit 1. Di sini seperti “pusat kota”, aneka kebutuhan tersedia. Jika kita tidak membawa logistik, maka kita dapat membelinya di sini. Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau, 15.000 rupiah saja untuk sebungkus nasi dengan lauk ikan atau ayam berbagai varian. 
         Posko di Desa Tanah Hitam
        Desa Tanah Hitam merupakan tempat sentral ketika akan berwisata ke air terjun Curug 9. Di desa ini terdapat Pos Komando (Posko). Posko ini berada di salah satu rumah warga. Sebelum melakukan perjalanan menuju air terjun kita wajib mengisi buku tamu. Kita harus mencatatkan identitas dan meninggalkan nomor HP yang dapat dihubungi untuk kenyamanan selama perjalanan. Biaya administrasinya pun cukup terjangkau. Tiket masuk Rp5.000,00/orang, sedangkan untuk biaya penitipan kendaraan adalah Rp15.000,00/mobil dan Rp5.000,00/motor.
        Setelah semua urusan administrasi di posko selesai kita dapat memulai perjalanan menuju Curug 9. Dari posko kita akan melewati jalan bebatuan. Di kiri dan kanan terdapat rumah-rumah warga yang rata-rata sudah permanen. Perjalan di jalan koral ini lebih kurang 30 menit. Semakin jauh perjalan kita, rumah-rumah warga semakin menghilang dan digantikan oleh barisan pohon karet dan sawit. Setelah melewati perkebunan ini, kita akan memasuki jalur menuju air terjun yang sebenarnya.

Jembatan kayu, di bawahnya terdapat aliran sungai yang cukup deras
          Pemandangan pertama adalah perkebunan kopi dengan jalan setapak. Terdapat kurang lebih 7 pondok petani di area perkebunan kebun kopi ini. Track yang dilalui masih tergolong mudah. Jalanan setapak yang kita lewati cukup datar sehingga tidak begitu menguras energi. Namun, jika kita sudah tiba di pondok terakhir, artinya kita akan memasuki track yang cukup sulit. Di sinilah terdapat tanjak-tanjakan serta sungai-sungai yang cukup membuat (saya) kehabisan tenaga.
         Terdapat dua tanjakan dengan kemiringan mencapai 90 derajat, sedangkan sisahnya adalah tanjakan-tanjakan dengan kemiringan 60-80 derajat. Untuk melewati tanjakan ini, kita tak ubahnya sedang memanjat tebing. Ya, tanjakan ini sangat mengandalkan cengkraman tangan dan tumpuan kaki yang kuat. Jika tidak berhati-hati kita dapat terguling ke jurang. Dan, itu sangat berbahaya.
         Di tanjakan 90 derajat pertama (dihitung dari jalan pulangnya) kita melewati tanjakan dengan cengkraman dan tumpuan yang terdiri dari akar-akar pohon dan kayu-kayu yang sengaja dipasang seiring bertambahnya minat wisatawan. Di tanjakan 90 derajat kedua, kita melewati tanjakan dengan tumpuan yang terdiri dari batuan. Kita harus ekstra hati-hati, terlebih lagi jika turun hujan. Batuan ini menjadi sangat licin.  
       Terdapat tiga sungai kecil dan satu sungai besar dengan jembatan kayu yang mulai rapuh. Di sungai-sungai kecil ini kita akan menngunakan batu untiuk menyeberang, sedangkan di sungai besar kita akan menggunakan jembatan kayu. Kita harus berhati-hati karena jembatan kayu ini mulai rapuh.

  Harus melewati tangga dengan ketinggian di atas 5M untuk tiba di bawah
         Kurang lebih 30 menit dari air terjun terdapat dua tangga kayu yang harus kita lewati. Kita juga harus berhati-hati, tangga kayu ini mulai rapuh dan sangat licin saat hujan turun. Biasanya, teman-teman yang takut ketinggian akan berusaha keras sekali melawan ketakutannya untuk dapat melewati track ini. Konon, sebelum dibuat tangga-tangga kayu ini, wisatawan mengandalkan akar pohon untuk naik dan turun. Ya, bergelantungan seperti di film-film Tarzan.

 Teman seperjalanan yang berjuang dari awal hingga akhir
         Rasa lelah terbayar sudah ketika dari kejauhan kita sudah melihat embun-embun menguap ke angkasa. Ya, air terjun curug 9 mengeluarkan embun-embun putih yang begitu memukau. Hati semakin riang ketika berlahan terdengar suara aliran air. Ya, kita tiba di air terjun curug 9 yang begitu alami.  Di bawah air terjun terdapat batuan besar yang biasanya  digunakan pengunjung untuk ber-selfi-ria atau untuk sekedar duduk manis menikmati terpaan air yang begitu dingin.
       Air terjun Curug 9, konon katanya memiliki air terjun 9 tingkat. Ajaibnya lagi, menurut salah satu narasumber (warga lokal) air terjun ini jumlahnya akan berbeda-beda, bergantung mata orang yang melihatnya. Wallahualam. Yang jelas, mataku melihat air terjun ini berjumlah 4 aliran.
           
Catatan:  Dibutuhkan sekitar 7-8 jam pulang-pergi (PP) dari posko ke air terjun dan dibutuhkan sekitar 5-6 jam pulang-pergi (PP) dari kota Bengkulu ke desa Tanah Hitam.  Jadi, selain persiapan fisik yang baik dibutuhkan juga time management yang matang. Mengingat track untuk menuju air terjun cukup panjang, dan cukup ekstrem, sebaiknya lakukan persiapan yang terbaik Jika kondisi fisik kita memang tidak memungkinkan, maka tidak perlu memaksakan diri untuk  melakukan perjalanan ke Curug 9 karena hal ini dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Si bijak mengatakan, “tujuan perjalanan adalah pulang dengan selamat.” Soe Hok Gie menuliskan “Berbagilah waktu dengan alam, maka kau akan mengenali dirimu.” (Catatan Seorang Demonstran)


Senin, 19 Juni 2017

Batu Betiang: Hamparan Raksasa Nan Megah (Explore Bengkulu)



       Soe Hok Gie—Gie, dalam buku Catatan Seorang Demostran menuliskan, “Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus pula berarti pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” Begitulah kira-kira sepenggal  kutipan yang berhasil saya ingat dengan baik. Saya kira, makna “gunung” dalam kutipan tersebut tidak hanya bermakna gunung secara harfiah, tetapi semua kegiatan yang berhubungan dengan alam bebas termasuk juga ke dalam makna “gunung” tersebut.
      Setiap quote tersebut terlintas dalam pikiran, entahlah, secara alami idealisme muncul dalam diri ini. Berhubung masih awal tahun, semangat masih membara. Tak ada salah melangkahkan kaki ke alam untuk sedikit mengencangkan otot-otot kaki karena kata orang “mensana incopore sano,”. Ya di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Wisata alam Batu Betiang adalah pilihan yang tepat untuk mewujudkan mensana incopore sano.
        Saya ingat betul hari itu, Jumat malam saya sengaja tidur lebih awal supaya bisa bangun pagi. Namun ekspetasi rupanya berbanding terbalik dengan realita. Rintik hujan awal tahun membuat tidur saya begitu lelap. Yuhu, kesiangan! Packing pun belum. Wahh.... gawat!!! Lalu dengan kekuatan seribu bayangan saya pun mempersiapkan segala kebutuhan untuk berjumpa dengan sang raksasa, Batu Betiang.
       Jam 6 tepat kami dijadwalkan berkumpul di titik pertemuan. Hujan masih mengguyur hingga pagi, perlahan namun tampaknya sulit berhenti. Cuaca dingin begitu menusuk tulang. Tanpa menghiraukan cuaca, rombongan kami tetap melakukan perjalanan, menembus jalanan kota yang masih lengang.
       Batu Betiang adalah objek wisata yang terletak di kota Curup, kabupaten Rejang Lebong, provinsi Bengkulu. Objek wisata ini terletak di desa Merasi, kecamatan Bermani Ulu Raya. Untuk tiba di tempat ini kita membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam untuk tiba di kota Curup menggunakan mobil travel dengan ongkos sekitar Rp50.000,00. Dari kota Curup kita membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam untuk tiba di desa Bermani Ulu Raya. Jika menggunakan motor, waktu yang digunakan dapat lebih cepat dan menghabiskan kurang lebih 3-4 liter bensin.           
      Desa Merasi adalah desa paling ujung yang berbatasan langsung dengan track untuk menuju objek wisata Batu Betiang. Dari desa Merasi kita akan menempuh perjalan kurang lebih selama tiga jam untuk tiba di objek wisata.           
       Track yang akan kita lalui masih tanah, sehingga apabila sedang musim hujan kita harus berhati-hati karena track akan menjadi begitu licin. Track yang dilalui pun terkadang menanjak, terkadang menurun, dan juga berlubang, sehingga menggunakan sepatu atau sendal gunung adalah pilihan yang tepat saat tracking.
      Jalur tracking menuju Batu Betiang begitu menyenangkan. Selama perjalanan indera penglihatan kita akan dimanjakan oleh hamparan sawah yang begitu indah. Setelah itu, mata kita akan kembali dimanjakan oleh pemandangan perkebunan kopi yang begitu hijau. Jika indera pendengaran kita sudah dimanjakan oleh suara air, artinya tak lama lagi, atau kurang lebih 40 menit lagi kita akan tiba di objek wisata Batu Betiang.
      Objek wisata Batu Betiang adalah air terjun nan cantik yang dikelilingi oleh hamparan batu-batu raksasa berbentuk persegi panjang berwarna hitam yang menjulang ke atas. Konon, batu-batu raksasa ini adalah peninggalan zaman megalitikum. Ukuran batu-batu yang mengelilingi air terjun berbeda-beda sehingga kita dapat menaiki batu-batu tersebut untuk dapat menyentuh air terjun paling atas. Namun, kita harus berhati-hati karena sebagian bebatuan licin. Jika tidak berhati-hati, kita akan tergelincir ke dalam genangan air terjun. Di dalam genangan air tersebut terdapat batu-batu besar yang membahayakan apabila kita terjatuh dan membenturnya. Bebatuan besar ini  juga dapat  kita gunakan untuk menyeberang dari sisi kiri menuju sisi kanan air terjun.
      Hal terbaik yang dapat dilakukan di Batu Betiang adalah berdiri di bawah air terjun. Pejamkan mata, lalu rasakan butiran-butiran air menerpa wajah kita. Sebuah sensasi yang tak akan kita dapatkan dalam riuhnya kota.
        Kurang lebih meghabiskan waktu sekitar 6 jam pulang-pergi dari desa Merasi ke lokasi air terjun. Dan kurang lebih menghabiskan waktu 8 jam pulang pergi dari kota Bengkulu ke kecamatan Bermani Ulu Raya (Curup). Jika dikalkulasikan kita membutuhkan waktu kurang lebih 14 jam untuk mengunjungi Batu Betiang. Jadi, sebelum melakukan perjalanan ada baiknya siapkan time management dengan baik. Selain itu, lakukan juga persiapan fisik. Jangan lupa membawa obat-obatan dan perbekalan yang cukup agar perjalanan anda aman dan nyaman. Akan lebih baik lagi jika membawa matras, mengingat jalur tracking yang cukup panjang, mungkin saja anda akan merasa lelah. Jika sudah lelah, sebaiknya beristirahat. Jika sudah merasa cukup fresh lanjutkanlah perjalanan. Saya pernah mendengar bahwa sejatinya tujuan perjalanan itu adalah pulang dengan selamat. Ya, jika dalam perjalanan pulang anda sudah kelelahan bolehlah singgah ke rumah warga desa Merasi. Waga desa Merasi begitu ramah dan hangat. Sebuah potret Indonesia-ku tercinta.
           
Catatan: Apabila data dalam tulisan saya kurang lengkap atau ada kekeliruan, mohon dimaafkan, karena tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman pribadi bermodalkan indera penglihatan dan pendengaran. Mohon maaf gambar yang saya tampilkan kurang begitu jelas karena saat saya datang cuaca hujan sehingga kesulitan untuk mengambil gambar yang lebih bagus.